| sumber gambar: https://iainutuban.ac.id/2021/04/21/ratu-kalinyamat-muslimah-tangguh-dari-jawa/ |
Ratu Kalinyamat ialah puteri ketiga dari Sultan Trenggana. Nama kecil Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana. Gelar Kalinyamat diberikan setelah ia menikah dengan Raden Toyib (Sultan Hadlirin) dan memperoleh sebuah tempat bernama Kalinyamat yang berada di antara Jepara dan Kudus. Kekacauan di pusat Kerajaan Demak timbul setelah wafatnya Sultan Trenggana dalam ekspedisi di Panarukan. Arya Penangsang, anak dari Pangeran Sedaing Lepen, cemburu atas pengangkatan Sunan Prawata. Sunan Prawata pun dibunuh sebagai upaya balas dendam. Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat kemudian pergi ke Kudus dalam rangka memperjuangkan keadilan kepada Sunan Kudus. Namun dalam perjalanan pulang, Sultan Hadlirin dibunuh oleh para utusan Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat kemudian pergi bertapa ke Gunung Danaraja yang berada di sebelah utara Sungai Jepara. Ia meninggalkan keraton dan semua kemewahannya. Ratu berjanji akan memberikan seluruh harta dan kekuasaannya pada orang yang berhasil membunuh Arya Penangsang. Akhirnya, Arya Penangsang berhasil dikalahkan oleh Sultan Hadiwijaya dengan bantuan Ki Pemanahan, Ki Juru Martani, Ki Panjawi, dan Danang Sutawijaya. Setelah kekalahan Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat kemudian dikenal sebagai wanita penguasa di Jawa. Sejak pertengahan abad ke-16 (1549) Ratu Kalinyamat tampil sebagai salah satu tokoh penting yang berpengaruh di pantai utara Jawa. Kekuasannya meliputi Pati, Juana, Jepara, dan Rembang.
Di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat,
Jepara kemudian berkembang pesat terutama pada bidang pelayaran dan
perdagangan. Keberhasilan ini ditunjang oleh pelabuhan yang aman dan angkatan
laut cukup banyak. Ratu Kalinyamat melakukan kerjasama dengan penguasa di
daerah lain melalui Maluku, Cirebon, Tuban, Johor, dan Banten. Aspek sosial dan
ekonomi tersebut berdampak kepada keadaan Jepara yang aman dan tentram. Dalam
hubungan dagang dan pelayaran, Ratu Kalinyamat menerapkan sistem commenda yang
dikenal di Nusantara pada abad ke-16 M. Dalam sistem ini, para raja (penguasa)
wilayah pesisir memiliki wakil-wakil yang berkedudukan di Malaka. Melalui
perwakilannya ini, para raja tersebut melakukan penanaman modal pada kapal
dalam negeri dan luar negeri yang akan berlayar untuk berdagang dengan wilayah
lain. Jepara berhasil melakukan ekspor beras (terbesar di Jawa), gula, kayu,
kelapa, dan berbagai jenis palawija. Hal tersebut merupakan bukti adanya
peningkatan perekonomian di Jepara. Dengan armada laut yang kuat serta kekayaan
yang luar biasa, banyak penguasa lain bekerja sama dengan Jepara. Semenjak
Malaka jatuh kepada Portugis, orang Jawa yang menetap di Malaka mendapatkan
dampak. Mereka mendapatkan gangguan dari Portugis untuk berdagang
rempah-rempah. Orang-orang Jawa yang merasa dirugikan meminta bantuan kepada
Ratu Kalinyamat, yang terkenal dengan armada lautnya yang kuat, untuk melawan
Portugis di Malaka. Sultan Johor juga ternyata mempunyai niat untuk mengadakan kerjasama
dengan Ratu Kalinyamat. Dengan semangat yang tinggi, Ratu Kalinyamat menurunkan
bantuan berupa 4.000 tentara dari Jepara dan 40 kapal sebagai upaya untuk
merebut Malaka dari tangan Portugis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar